TAHUNA, ManadoLive.co.id — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Awu, Kabupaten Kepulauan Sangihe, memasuki hari kedua. Pemerintah daerah bersama TNI-Polri memperketat pemantauan setelah kobaran api diperkirakan telah menghanguskan area mendekati kurang lebih hektare.
Pemantauan langsung dilakukan Penjabat Sekretaris Daerah (Sekda) Sangihe Johanis Emil Hengkeng Pilat bersama Kepala BPBD Sangihe Wandu Labesi, Kepala Kesbangpol Godfriet F. Pella, SP., ME., Wakapolres Sangihe Kompol Jendri Lewan serta Kasat Intelkam IPTU Trisno Bialelang.
Rombongan memantau perkembangan kebakaran dari lokasi terakhir di Tate, Kelurahan Pananekeng, Kecamatan Tahuna Barat.
Johanis mengatakan, pemantauan dilakukan untuk mendapatkan gambaran riil mengenai titik api sekaligus mengetahui arah pergerakannya. Data tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menentukan langkah penanganan di lapangan.
“Pemerintah daerah terus berupaya mengendalikan pergerakan api dengan mendapatkan secara riil titik-titik api yang perlu diantisipasi. Dari situ kemudian dilakukan analisa untuk menyusun langkah penanganan di lapangan,” ujar Johanis.
Menurut dia, kondisi geografis Gunung Awu menjadi tantangan tersendiri dalam upaya penanganan. Api diketahui berasal dari kawasan puncak Gunung Awu, sekitar KM 8 atau Pos 8 jalur pendakian.
Dari kawasan tersebut, api bergerak menuruni lembah ke arah timur dan kemudian melingkar menuju bagian utara.
Medan yang curam, ditambah vegetasi yang mengering akibat kemarau panjang, membuat api berpotensi bergerak cepat.
“Ini daerah-daerah yang curam dan banyak ditumbuhi tanaman yang karena kemarau begitu panjang menjadi mudah terbakar,” jelasnya.
Kekhawatiran semakin besar karena di sekitar kawasan tersebut terdapat perkebunan masyarakat. Vegetasi seperti bambu dan pohon-pohon liar yang dalam kondisi kering dapat menjadi bahan bakar alami dan mempercepat rambatan api.
Berdasarkan pengamatan visual dari sisi bukit sebelah timur Gunung Awu, luas kawasan yang terbakar diperkirakan mendekati kurang lebih 30 hektare.
Meski belum ada laporan resmi yang memastikan api telah masuk ke lahan perkebunan warga, komunikasi dengan masyarakat menunjukkan kobaran api mulai mendekati kawasan perkebunan.
Situasi ini menjadi perhatian serius pemerintah. Jika api terus bergerak mengikuti vegetasi kering, ancaman meluasnya kebakaran ke lahan perkebunan masyarakat semakin terbuka.
Johanis menegaskan, penanganan harus dilakukan secara cepat dan terkoordinasi dengan melibatkan seluruh unsur terkait.
“Kita perlu langkah di lapangan sesegera mungkin untuk dikonsolidasikan dalam penanganan teknis. Ini harus menjadi kerja bersama, baik pemerintah daerah, TNI-Polri maupun dukungan masyarakat setempat,” katanya.
Sementara itu, Wakapolres Sangihe Kompol Jendri Lewan meminta masyarakat tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu munculnya titik api baru.
Imbauan tersebut berlaku bagi seluruh masyarakat di Kepulauan Sangihe, terutama di tengah kondisi kemarau dan keringnya vegetasi.
Jendri secara tegas meminta warga menghentikan praktik pembakaran lahan untuk membuka atau membersihkan perkebunan.
“Yang pertama, stop membakar lahan. Apabila membuka lahan kemudian membakar, jangan sampai terjadi karena itu akan menyebabkan sumber api,” tegas Jendri.
Masyarakat juga diminta tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang dipenuhi rerumputan dan vegetasi kering
Tak hanya itu, Jendri meminta jalur pendakian menuju Gunung Awu untuk sementara ditutup. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah masyarakat memasuki kawasan yang sedang dilanda kebakaran.
“Untuk jalur ke Awu kalau bisa ditutup, tidak ada lagi yang naik ke sana,” ujarnya.
Menurut Jendri, penanganan karhutla bukan hanya menjadi tugas aparat maupun pemerintah. Kesadaran dan keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah api semakin meluas.
“Ini tanggung jawab kita semua. Bukan hanya aparat, tetapi masyarakat juga harus terlibat,” pungkasnya.
Hingga kini, pemerintah daerah bersama TNI-Polri terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan titik api. Pergerakan kobaran menjadi perhatian utama guna mencegah api menjalar lebih jauh ke kawasan perkebunan hingga permukiman warga.










