Warisan Leluhur di Tengah Gempuran Zaman, Bupati Thungari Buka Jalan Menghidupkan Kembali Rumah Tradisional Sangihe

by -66 Views

TAHUNA, ManadoLive.co.id — Upaya menggali dan menghidupkan kembali warisan budaya masyarakat Kepulauan Sangihe terus didorong. Salah satunya melalui Seminar Budaya bertajuk “Penemuan Kembali Rumah Tradisional Sangihe sebagai Ruang Hidup dan Identitas Budaya” yang dibuka secara resmi oleh Bupati Kepulauan Sangihe, Michael Thungari, S.E., M.M.

Seminar tersebut menjadi ruang diskusi sekaligus refleksi untuk menggali kembali nilai, fungsi, serta filosofi rumah tradisional Sangihe yang selama ini menjadi bagian penting dari kehidupan dan identitas masyarakat di daerah kepulauan tersebut.

Dalam kegiatan itu, tiga narasumber turut memberikan perspektif mengenai keberadaan dan makna rumah tradisional Sangihe. Mereka adalah Ketua Dewan Adat Lukman Makapuas, S.Pd., Sesepuh Adat Niklas Mehare, serta Soleman Bakir, S.T. selaku penggagas kegiatan.

Ketiganya membahas berbagai aspek rumah tradisional Sangihe, mulai dari nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya hingga pentingnya menjaga keberadaannya di tengah perkembangan zaman.

Dalam sambutannya, Bupati Michael Thungari menegaskan bahwa kebudayaan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Sangihe.

Menurutnya, rumah tradisional tidak semata-mata dipandang sebagai bangunan fisik atau peninggalan masa lalu. Lebih dari itu, rumah tradisional merupakan ruang hidup yang menyimpan pengetahuan, nilai sosial, kearifan lokal, serta perjalanan kehidupan masyarakat dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, upaya untuk menemukan, mengenali, dan memahami kembali rumah tradisional Sangihe dinilai penting agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak kehilangan akar dan identitas budayanya.

Bupati berharap seminar tersebut tidak berhenti pada diskusi dan pertukaran gagasan. Ia mendorong agar pembahasan yang lahir dalam forum tersebut dapat ditindaklanjuti melalui langkah konkret, seperti menggali dan mendokumentasikan rumah tradisional, menjaga kelestariannya, serta memperkenalkan kembali arsitektur dan nilai filosofisnya kepada masyarakat luas.

“Rumah tradisional harus dipahami bukan hanya sebagai peninggalan masa lalu, tetapi sebagai sumber pengetahuan dan bagian dari identitas masyarakat yang tetap relevan untuk diwariskan kepada generasi berikutnya,” demikian pokok pesan yang disampaikan dalam kegiatan tersebut.

Seminar budaya ini turut dihadiri Yubelita Andriani Tudus, S.Si., pejabat fungsional yang mewakili Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara, bersama unsur adat dan para peserta seminar.

Kehadiran pemerintah, lembaga adat, pemerhati budaya, masyarakat, serta unsur pelestarian kebudayaan dalam forum tersebut memperlihatkan pentingnya kolaborasi dalam menjaga warisan budaya Sangihe.

Melalui seminar ini, rumah tradisional Sangihe diharapkan kembali mendapat tempat dalam kesadaran masyarakat. Bukan sekadar sebagai peninggalan sejarah, tetapi sebagai simbol jati diri, ruang hidup, dan sumber pengetahuan budaya yang terus hidup serta diwariskan kepada generasi mendatang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.