SITARO Manadolive.co.id– Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sitaro menggelar rapat koordinasi dan evaluasi penanganan tanggap darurat bencana hidrometeorologi yang melanda wilayah Pulau Siau, Kamis (15/1/2026).
Kegiatan tersebut berlangsung di Ruang Media Center Pemerintah Daerah, Kelurahan Ondong, Kecamatan Siau Barat.
Rapat dipimpin oleh Dansatgas Tanggap Darurat Letkol Czi Nazarudin, S.T., M.I.P., selaku Dandim 1301/Sangihe, dan diikuti sekitar 20 peserta dari unsur Forkopimda, instansi vertikal, OPD terkait, serta para lurah dan kapitalaung wilayah terdampak bencana.
Sejumlah pejabat yang hadir antara lain Sekretaris Daerah Kepulauan Sitaro Drs. Denny Kondoj, M.Si, Asisten II dan III Sekda, Kabag Ops Polres Kepulauan Sitaro AKP Novrianto Sadia, Danpos AL Kepulauan Siau Kapten Laut (P) J. Tahulending, perwakilan Kejaksaan Negeri, Basarnas Sulawesi Utara, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, PDAM, serta para camat dan pemerintah kampung terdampak.
Dalam arahannya, Letkol Czi Nazarudin menyampaikan bahwa fokus utama penanganan tanggap darurat masih diarahkan pada pencarian korban yang hingga saat ini masih berjumlah dua orang.
Selain itu, pembersihan akses jalan yang tertutup material longsor terus dilakukan dan kini sudah dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat.
“Yang tidak kalah penting adalah memastikan keberlangsungan hidup warga terdampak serta menyiapkan solusi bagi masyarakat yang rumahnya rusak berat atau hilang, termasuk rencana relokasi,” ujar Nazarudin.
Sementara itu, Kasi Operasi Basarnas Provinsi Sulawesi Utara, Ida Bagus Nyoman Ngura Asrama, menjelaskan bahwa operasi pencarian telah memasuki hari ke-11. Tim SAR telah melakukan penyisiran di sejumlah pulau di wilayah Siau, namun hingga kini dua korban belum ditemukan.
Dari pihak kepolisian, AKP Novrianto Sadia menyampaikan bahwa sesuai perintah Kapolda Sulawesi Utara, status tanggap darurat diperpanjang selama tujuh hari, terhitung sejak 15 hingga 21 Januari 2026.
Ia juga mengungkapkan bahwa terkait temuan yang diduga bagian tubuh korban bencana atas nama almarhum Swingle Dalending, telah dilakukan pengambilan sampel dan saat ini masih menunggu hasil pemeriksaan dari Mabes Polri.
Selain itu, disampaikan pula laporan kondisi wilayah terdampak dari para kapitalaung. Di Kampung Batusenggo tercatat 23 rumah terdampak lumpur, empat di antaranya belum dibersihkan.
Kampung Laghaeng mencatat 14 rumah terdampak, dengan tujuh rumah masih membutuhkan pembersihan. Sementara di Kampung Bumbiha, sebanyak 80 rumah terdampak telah selesai dibersihkan dan kebutuhan logistik dinyatakan terpenuhi.
Rapat tersebut menghasilkan sejumlah kesepakatan penting, di antaranya penanganan tanggap darurat dan pencarian korban akan diakhiri pada 18 Januari 2026. Namun, peralatan tanggap darurat masih akan digunakan pada masa transisi menuju pemulihan.
Pengungsi tetap akan berada di lokasi pengungsian hingga tersedianya hunian sementara dan kebutuhan dasar terpenuhi. Operasi Taruna Siaga Bencana (Tagana) juga akan terus dilaksanakan selama masih terdapat pengungsi di bawah tanggung jawab Dinas Sosial dan Kementerian Sosial.
Selain itu, disepakati bahwa seluruh rumah rusak dan hilang di titik-titik bencana hidrometeorologi Siau 2026, yakni Kelurahan Bahu, Kampung Batusenggo, Laghaeng, Peling, Bumbiha, dan Kelurahan Paseng, akan masuk dalam rencana relokasi. Rencana tersebut akan dibahas secara menyeluruh dengan melibatkan keluarga terdampak dan seluruh pihak terkait.
Apel penutupan status tanggap darurat dijadwalkan berlangsung pada Minggu, 18 Januari 2026, pukul 15.00 WITA di Terminal Ulu, Kecamatan Siau Timur.












