Operasi Karhutla Gunung Awu Resmi Ditutup, Thungari Apresiasi Relawan dan Tegaskan Kewaspadaan Tak Boleh Kendur

by -85 Views

TAHUNA, ManadoLive.co.id — Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari secara resmi menutup operasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan lindung Gunung Api Awu, Kamis (15/10/2026). Meski api telah berhasil dipadamkan, seluruh pihak diminta tetap meningkatkan kewaspadaan melalui pemantauan dan upaya pencegahan kebakaran.

Penutupan operasi tersebut menandai berakhirnya rangkaian penanganan karhutla yang dilaksanakan sejak 5 September 2026. Keberhasilan ini tidak lepas dari kerja keras personel gabungan TNI-Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), perangkat daerah terkait, tenaga kesehatan, aparat wilayah, relawan, serta dukungan masyarakat.

Dalam apel penutupan operasi, Thungari menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah terlibat dalam upaya pemadaman, khususnya para relawan yang rela mengorbankan waktu, tenaga, dan pikiran demi keselamatan masyarakat serta kelestarian lingkungan.

“Atas nama Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe, saya menyampaikan terima kasih dan penghargaan kepada seluruh personel gabungan, relawan, dan masyarakat yang telah bekerja keras dalam penanganan karhutla ini,” ungkap Thungari.

Sebagai bentuk penghargaan, Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe akan menyerahkan sertifikat apresiasi serta memberikan upah lelah kepada para relawan. Penyaluran bantuan tersebut dilakukan secara nontunai melalui rekening masing-masing sesuai ketentuan yang berlaku.

Thungari menegaskan, penghargaan tersebut bukan semata-mata dilihat dari besaran nilai yang diterima, melainkan sebagai bentuk pengakuan pemerintah atas semangat kemanusiaan dan kepedulian para relawan terhadap keselamatan masyarakat.

“Saya tahu nilainya sangat kecil, tetapi ini merupakan bentuk pengakuan dan penghormatan pemerintah atas semangat kemanusiaan serta kepedulian saudara-saudara dalam membantu masyarakat dan daerah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Thungari meminta BPBD berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan instansi terkait untuk merangkul komunitas pencinta alam, mahasiswa pencinta alam, serta kelompok anak muda lainnya ke dalam wadah relawan kebencanaan yang terorganisasi.

Menurutnya, wadah tersebut perlu dibina melalui pelatihan dan pendampingan secara terencana serta berkelanjutan agar mampu mendukung upaya pencegahan, kesiapsiagaan, hingga penanganan darurat bencana.

Selain memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi bencana, pembinaan relawan juga dinilai penting sebagai bagian dari pengembangan peran generasi muda dalam pembangunan Kabupaten Kepulauan Sangihe.

“Penanggulangan bencana bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kita bersama,” tegasnya.

Ia juga menekankan bahwa kekuatan utama dalam menghadapi bencana tidak hanya bergantung pada ketersediaan peralatan canggih, tetapi juga pada persatuan, solidaritas, dan semangat gotong royong masyarakat.

Dalam kesempatan tersebut, Thungari turut menyoroti fenomena kabut asap yang menjadi perhatian di sejumlah wilayah, termasuk Sulawesi Utara dan Kepulauan Sangihe.

Ia menyebutkan, kabut asap tersebut berkaitan dengan kebakaran hutan di wilayah Papua. Namun, sumber dan pergerakan asap tetap perlu dipastikan berdasarkan informasi dari instansi berwenang.

Meskipun kebakaran di kawasan lindung Gunung Api Awu telah berhasil dipadamkan, masyarakat diminta tidak lengah terhadap kemungkinan dampak kabut asap bagi kesehatan.

Thungari mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila kabut asap cukup pekat serta menggunakan masker yang sesuai guna mengurangi paparan asap.

Anak-anak, lanjut usia, dan masyarakat yang rentan mengalami gangguan pernapasan juga diminta mendapat perhatian khusus. Warga yang mengalami sesak napas atau gangguan kesehatan serius diimbau segera mencari pertolongan medis.

Ia turut meminta BPBD, Dinas Kesehatan, pemerintah kecamatan, serta pemerintah kampung dan kelurahan terus memperkuat koordinasi dalam memantau kondisi udara, menyampaikan informasi yang akurat, dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran maupun dampak kabut asap.

Mengakhiri sambutannya, Thungari kembali menyampaikan terima kasih kepada seluruh personel gabungan, relawan, dan masyarakat yang telah menunjukkan dedikasi selama proses penanganan karhutla.

Ia berharap pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat kesiapsiagaan dan membangun sistem penanggulangan bencana yang lebih tangguh di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Berdasarkan hasil evaluasi dan ketentuan yang berlaku, Thungari kemudian secara resmi menyatakan operasi penanganan karhutla di kawasan lindung Gunung Api Awu ditutup pada Kamis, 15 Oktober 2026.

Namun, ia menegaskan bahwa penutupan operasi bukan berarti kewaspadaan juga berakhir. Pemantauan kondisi lapangan, pencegahan kebakaran, dan kesiapsiagaan seluruh pihak harus tetap dilaksanakan sesuai perkembangan situasi.

Apel penutupan operasi tersebut dihadiri Wakil Bupati Kepulauan Sangihe, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), jajaran TNI-Polri, Penjabat Sekretaris Daerah, pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), para camat, lurah, kapitalaung, serta relawan yang terlibat dalam penanganan karhutla.

Pemerintah daerah berharap semangat kebersamaan yang terbangun selama penanganan kebakaran Gunung Api Awu terus terjaga demi melindungi masyarakat dan kelestarian lingkungan di Kabupaten Kepulauan Sangihe.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.