Kemarau Panjang Picu Krisis Air Bersih, BPBD Sangihe Jadwalkan Distribusi ke 34 Kampung

by -77 Views

TAHUNA, ManadoLive.co.id — Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kepulauan Sangihe semakin berdampak pada ketersediaan air bersih masyarakat. Hingga kini, laporan kekurangan air bersih telah datang dari 34 kampung dan kelurahan yang tersebar di 10 kecamatan.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kepulauan Sangihe, Wandu Labesi, mengatakan pihaknya terus melakukan pendistribusian air bersih secara bertahap ke wilayah yang mengalami dampak paling parah.

“Untuk kondisi kelangkaan air bersih akibat kemarau panjang ini, kami terus melakukan distribusi secara bertahap sesuai laporan dan tingkat kebutuhan masyarakat,” ujar Wandu.

Untuk wilayah Kecamatan Tatoateng , BPBD telah menyalurkan air bersih ke sejumlah kampung yang mengalami kondisi paling parah. Distribusi dilakukan secara bergiliran, termasuk ke Kampung Para I dan Salikere.

Pada distribusi berikutnya, BPBD kembali menjadwalkan penyaluran air ke wilayah tersebut. Sementara pada Rabu, distribusi akan diarahkan ke Kampung Para, Paralele dan kahakitang , termasuk untuk memenuhi kebutuhan fasilitas kesehatan seperti puskesmas yang juga membutuhkan pasokan air bersih.

Menurut Wandu, pendistribusian dilakukan secara rutin dengan mempertimbangkan laporan dari masing-masing wilayah terdampak.

Sementara itu, untuk wilayah Kecamatan Kendahe, khususnya Kampung Kawaluso, BPBD telah mengirimkan bantuan air bersih menggunakan kapal Sabuk Nusantara.

Penggunaan armada laut tersebut dilakukan setelah adanya rekomendasi dari Kementerian Perhubungan untuk mendukung distribusi air bersih ke wilayah kepulauan yang mengalami kelangkaan air.

“Untuk wilayah pulau-pulau, kami memanfaatkan fasilitas transportasi laut. Salah satunya kapal Sabuk Nusantara untuk membantu distribusi air bersih,” jelasnya.

Wandu mengakui, meningkatnya jumlah wilayah terdampak membuat kebutuhan distribusi air bersih semakin tinggi. Kondisi ini diperparah dengan keterbatasan armada mobil tangki yang dimiliki pemerintah daerah.

Saat ini, Sangihe hanya memiliki tiga unit mobil tangki yang dapat digunakan untuk mendukung distribusi air bersih. Dua unit berada pada perangkat daerah, yakni Dinas PUPR dan BPBD, sementara satu unit lainnya berada di perangkat daerah terkait.

“Dengan keterbatasan armada ini, tentu kami harus melakukan penjadwalan distribusi. Kami berharap masyarakat dapat bersabar karena distribusi dilakukan secara bertahap,” katanya.

BPBD juga mendorong pemerintah kampung untuk mulai mencari dan mengidentifikasi sumber-sumber mata air baru yang masih dapat dimanfaatkan masyarakat.

Langkah tersebut dinilai penting sebagai upaya mengantisipasi semakin panjangnya musim kemarau dan potensi berulangnya krisis air bersih di masa mendatang.

Selain mencari sumber air baru, pemerintah kampung juga diharapkan mulai menyiapkan sarana penampungan air, seperti tandon maupun bak penampung.

Menurut Wandu, keberadaan fasilitas penampungan akan sangat membantu mempercepat proses distribusi. Pasalnya, selama ini penyaluran air yang dilakukan langsung dari rumah ke rumah membutuhkan waktu cukup lama.

“Kalau distribusi dilakukan di satu titik, misalnya pada bak penampung atau tandon yang sudah disiapkan, tentu akan lebih memudahkan dan mempercepat pelayanan pemerintah daerah kepada masyarakat,” ujarnya.

BPBD Sangihe memastikan pendistribusian air bersih akan terus dilakukan secara bergiliran berdasarkan tingkat kebutuhan dan laporan wilayah terdampak.

Dengan jumlah wilayah yang mengalami kekeringan terus bertambah, pemerintah daerah mengimbau masyarakat untuk menggunakan persediaan air secara bijak sembari menunggu distribusi bantuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

No More Posts Available.

No more pages to load.